Rabu, 21 Mei 2014

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Judul Artikel Jurnal :
PENCETAKAN AL-QUR’AN DARI VENESIA
HINGGA INDONESIA, PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI, Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi
Alamat Web/Link artikel jurnal :
Direview oleh : ARZIQI MAHLIL (411106183/1)


ERA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI PERCETAKAN
Pada tahun 1455 M di temukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg yang menggunakan plat huruf dan dimasukkan kedalam sebuah kotak bingkai, plat huruf tersebut dapat diganti sesuai tulisan yang ingin ditulis, ini adalah cikal bakal mesin cetak saat ini. Namum penggunaannya baru dipakai pada tahun 1839 oleh suratkabar penny press yang pertama, The New York Sun. mesin cetak terus berkembang dan disempurnakan.

ERA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI PERCETAKAN BERKAITAN DENGAN ISLAM
Pada tahun 1701 orientalis Andreas Acoluthus dari Breslau memublikasikan sebuah lembaran untuk sebuah poliglot Al-Qur’an, yang di dalamnya dicetak Surah Pertama Al-Qur’an dalam bahasa Arab, Persia, dan Turki. Pada tahun 1787, Yang Mulia Ratu Rusia Tsarina Catherin II menyuruh agar Al-Qur’an dicetak dengan tujuan politis, seperti toleransi keagamaan. Dia ingin agar keturunan Muslim Turki mudah mengakses Kitab Suci tersebut. Al-Qur’an cetakan ini di-tahqiq oleh sarjana-sarjana Islam dan diberi kutipan-kutipan keterangan dari kitab-kitab tafsir. Kemudian edisi ini dicetak lagi pada tahun 1789, 1790, 1793, 1796 dan 1798. Pendirian percetakan di dunia Islam tertunda karena para sultan di Kekaisaran Ottoman melarang penggunaan buku-buku yang dicetak oleh orang Eropa—yang menurut mereka nn-muslim

Oleh sebab itu, penerbitan untuk mencetak buku-buku didirikan pada akhir abad ke-15 di Constantinopel dan kota-kota lainnya di Imperium Ottoman. Baru kemudian pada tahun 1787 Kekaisaran Ottoman mencetak Mushaf al- Quran dan diterbitkan di St. Petersburg, Rusia. Edisi cetakan ini lebih dikenal dengan edisi Malay Usmani. Edisi ini lalu diikuti oleh percetakan lainnya. Di kota Volga, Kazan, Al-Qur’an pertama kali dicetak pada tahun 1801 (adapula yang menyatakan pada tahun 1803). Persia (Iran) mulai mencetak Al-Qur’an pada tahun 1838. London pada tahun 1833. India pada tahun 1852, dan Istambul pada tahun 1872. Pada tahun 1834, Al-Qur’an dicetak di Leipzig dan diterjemahkan oleh orientalis Jerman, Gustav Flugel. Mungkin cetakan Al-Qur’an yang lebih baik dibanding edisiedisi yang dicetak orang-orang Eropa sebelumnya. Edisi ini dilengkapi dengan concordance (pedoman penggunaan) Al-Qur’an yang dikenal dengan ‘Flugel edition’.

Terjemahan Flugel membentuk fondasi penelitian Al-Qur’an moderen dan menjadi basis sejumlah terjemahan baru ke dalam bahasa-bahasa Eropa pada tahun-tahun berikutnya. Edisi ini kemudian dicetak lagi pada tahun 1841, 1855, 1867, 1870, 1881 dan 1893. Namun edisi ini, Alquran dinilai masih memiliki banyak kecacatan, terutama pada sistem penomeran surah yang tidak sesuai dengan yang digunakan umat Islam umumnya. Pada tahun 1798, percetakan dimulai di Mesir. Pada saat itu Napoleon (1769-1821) berkampanye dengan mencetak leaflet dan pamflet-pamflet dekrit-dekrit dan peraturan Napoleon. Namun ketika Muhammad Ali Basha menjadi penguasa Mesir pada 1805, dia memulai lagi kerja percetakan pada 1819 dan percetakan itu dinamai “al-Matba‘ah al-Ahliyah” (The National Press). Namun, pencetakan Al-Qur’an di Mesir baru dimulai tahun antara 1923-1925. Edisi ini dicetak dengan percetakan moderen. Edisi Mesir ini menjadi mushaf standar di mana bacaan Al-Qur’an sudah diseragamkan. Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Al-Qur’an (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan Kitab Suci ini. Mushaf Mesir merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman moderen. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim serta dikenal pula dengan edisi Raja Fadh karena dialah yang memrakarsainya. 

Di Asia Tenggara, Al-Qur’an dicetak sendiri oleh orang daerah. Pada tahun 1848 —menurut penelitian Abdurrazak dan Proudfoot— Muhammad Azhari, orang asli Sumatera membuat sebuah litografi Al-Qur’an yang kemudian dia cetak pada tahun 1854. Dia membeli peralatan percetakan di Singapura ketika mau kembali ke Sumatera dari Makkah. Selanjutnya, pada tahun 1947 untuk pertama kali Al-Qur’an dicetak dengan teknik serta menggunakan mesin cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang kaligrafer Turki yang terkemuka, Badiuzzaman Sa’id Nursi (1876-1960). Kemudian sejak tahun 1976 Al-Qur’an dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah oleh percetakan yang dikelola oleh pengikut Sa’id Nursi di Berlin (Jerman). 

Mulai abad ke-20, pencetakan Al-Qur-’an sudah ditangani oleh umat Islam sendiri dan menjamur di negara-negara Islam. Pada tahun 1984 berdirilah percetakan khusus Al-Quran “Majma’ Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif”, percetakan terbesar di dunia, yang memang hanya mencetak Al-Qur’an saja. Letaknya di kota Madinah. Lembaga ini berada di bawah Kementerian Agama Kerajaan Arab Saudi. Semenjak edisi Raja Fadh, Al-Qur’an. mulai dicetak dengan berbagai ukuran, bentuk, jenis kaligrafi, hiasan (ornamen) dan penambahan keterangan-keterangan lainnya (tafsir), sebagaimana yang kita temukan sekarang ini. Akan tetapi, pencetakan Al-Qur’an di Mesir baru dimulai tahun antara 1923-1925. Edisi ini dicetak dengan percetakan moderen. Edisi Mesir ini menjadi mushaf standar di mana bacaan Al-Qur’an sudah diseragamkan. Kemudian sejak tahun 1976 Al-Qur’an dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah oleh percetakan yang dikelola oleh pengikut Sa’id Nursi di Berlin (Jerman). Mulai abad ke-20, pencetakan Al-Qur’an sudah ditangani oleh umat Islam sendiri dan menjamur di negara-negara Islam. Pada tahun 1984 berdirilah percetakan khusus Al-Quran “Majma’ Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif”, percetakan terbesar di dunia, yang memang hanya mencetak Al-Qur’an saja. Letaknya di kota Madinah. Lembaga ini berada di bawah Kementerian Agama Kerajaan Arab Saudi. Semenjak edisi Raja Fadh, Al-Qur’an mulai dicetak dengan berbagai ukuran, bentuk, jenis kaligrafi, hiasan (ornamen) dan penambahan keterangan-keterangan lainnya (tafsir), sebagaimana yang kita temukan pada saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar