Judul Artikel Jurnal :
PENCETAKAN
AL-QUR’AN DARI VENESIA
HINGGA
INDONESIA, PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI, Dampak Perkembangan
Teknologi Komunikasi
Alamat Web/Link artikel jurnal :
Direview
oleh : ARZIQI MAHLIL (411106183/1)
ERA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI
PERCETAKAN
Pada tahun 1455 M di temukannya mesin
cetak oleh Johann Gutenberg yang menggunakan plat huruf dan dimasukkan kedalam
sebuah kotak bingkai, plat huruf tersebut dapat diganti sesuai tulisan yang
ingin ditulis, ini adalah cikal bakal mesin cetak saat ini. Namum penggunaannya baru dipakai pada tahun 1839 oleh suratkabar
penny press yang pertama, The New York Sun. mesin cetak terus berkembang dan disempurnakan.
ERA
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI PERCETAKAN BERKAITAN DENGAN ISLAM
Pada
tahun 1701 orientalis Andreas Acoluthus dari Breslau memublikasikan sebuah
lembaran untuk sebuah poliglot Al-Qur’an, yang di dalamnya dicetak Surah
Pertama Al-Qur’an dalam bahasa Arab, Persia, dan Turki. Pada tahun 1787, Yang
Mulia Ratu Rusia Tsarina Catherin II menyuruh agar Al-Qur’an dicetak dengan
tujuan politis, seperti toleransi keagamaan. Dia ingin agar keturunan Muslim
Turki mudah mengakses Kitab Suci tersebut. Al-Qur’an cetakan ini di-tahqiq oleh
sarjana-sarjana Islam dan diberi kutipan-kutipan keterangan dari kitab-kitab
tafsir. Kemudian edisi ini dicetak lagi pada tahun 1789, 1790, 1793, 1796 dan
1798. Pendirian percetakan di dunia Islam tertunda karena para sultan di
Kekaisaran Ottoman melarang penggunaan buku-buku yang dicetak oleh orang Eropa—yang
menurut mereka nn-muslim.
Oleh sebab itu, penerbitan untuk mencetak buku-buku
didirikan pada akhir abad ke-15 di Constantinopel dan kota-kota lainnya di
Imperium Ottoman. Baru kemudian pada tahun 1787 Kekaisaran Ottoman mencetak
Mushaf al- Quran dan diterbitkan di St. Petersburg, Rusia. Edisi cetakan ini
lebih dikenal dengan edisi Malay Usmani. Edisi ini lalu diikuti oleh percetakan
lainnya. Di kota Volga, Kazan, Al-Qur’an pertama kali dicetak pada tahun 1801
(adapula yang menyatakan pada tahun 1803). Persia (Iran) mulai mencetak
Al-Qur’an pada tahun 1838. London pada tahun 1833. India pada tahun 1852, dan
Istambul pada tahun 1872. Pada tahun 1834, Al-Qur’an dicetak di Leipzig dan
diterjemahkan oleh orientalis Jerman, Gustav Flugel. Mungkin cetakan Al-Qur’an
yang lebih baik dibanding edisiedisi yang dicetak orang-orang Eropa sebelumnya.
Edisi ini dilengkapi dengan concordance (pedoman penggunaan) Al-Qur’an yang
dikenal dengan ‘Flugel edition’.
Terjemahan Flugel membentuk fondasi penelitian
Al-Qur’an moderen dan menjadi basis sejumlah terjemahan baru ke dalam
bahasa-bahasa Eropa pada tahun-tahun berikutnya. Edisi ini kemudian dicetak
lagi pada tahun 1841, 1855, 1867, 1870, 1881 dan 1893. Namun edisi ini, Alquran
dinilai masih memiliki banyak kecacatan, terutama pada sistem penomeran surah
yang tidak sesuai dengan yang digunakan umat Islam umumnya. Pada tahun 1798,
percetakan dimulai di Mesir. Pada saat itu Napoleon (1769-1821) berkampanye
dengan mencetak leaflet dan pamflet-pamflet dekrit-dekrit dan peraturan
Napoleon. Namun ketika Muhammad Ali Basha menjadi penguasa Mesir pada 1805, dia
memulai lagi kerja percetakan pada 1819 dan percetakan itu dinamai “al-Matba‘ah
al-Ahliyah” (The National Press). Namun, pencetakan Al-Qur’an di Mesir baru
dimulai tahun antara 1923-1925. Edisi ini dicetak dengan percetakan moderen.
Edisi Mesir ini menjadi mushaf standar di mana bacaan Al-Qur’an sudah
diseragamkan. Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Al-Qur’an
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan Kitab Suci ini. Mushaf
Mesir merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman
moderen. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di
Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri
dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang
menggunakan versi Hafs dari Asim serta dikenal pula dengan edisi Raja Fadh
karena dialah yang memrakarsainya.
Di Asia Tenggara, Al-Qur’an dicetak sendiri
oleh orang daerah. Pada tahun 1848 —menurut penelitian Abdurrazak dan
Proudfoot— Muhammad Azhari, orang asli Sumatera membuat sebuah litografi
Al-Qur’an yang kemudian dia cetak pada tahun 1854. Dia membeli peralatan
percetakan di Singapura ketika mau kembali ke Sumatera dari Makkah.
Selanjutnya, pada tahun 1947 untuk pertama kali Al-Qur’an dicetak dengan teknik
serta menggunakan mesin cetak offset yang canggih dan dengan memakai
huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang
kaligrafer Turki yang terkemuka, Badiuzzaman Sa’id Nursi (1876-1960). Kemudian
sejak tahun 1976 Al-Qur’an dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah oleh
percetakan yang dikelola oleh pengikut Sa’id Nursi di Berlin (Jerman).
Mulai
abad ke-20, pencetakan Al-Qur-’an sudah ditangani oleh umat Islam sendiri dan
menjamur di negara-negara Islam. Pada tahun 1984 berdirilah percetakan khusus
Al-Quran “Majma’ Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif”, percetakan terbesar di
dunia, yang memang hanya mencetak Al-Qur’an saja. Letaknya di kota Madinah.
Lembaga ini berada di bawah Kementerian Agama Kerajaan Arab Saudi. Semenjak
edisi Raja Fadh, Al-Qur’an. mulai dicetak dengan berbagai ukuran, bentuk, jenis
kaligrafi, hiasan (ornamen) dan penambahan keterangan-keterangan lainnya
(tafsir), sebagaimana yang kita temukan sekarang ini. Akan tetapi, pencetakan
Al-Qur’an di Mesir baru dimulai tahun antara 1923-1925. Edisi ini dicetak
dengan percetakan moderen. Edisi Mesir ini menjadi mushaf standar di mana
bacaan Al-Qur’an sudah diseragamkan. Kemudian sejak tahun 1976 Al-Qur’an
dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah oleh percetakan yang dikelola oleh
pengikut Sa’id Nursi di Berlin (Jerman). Mulai abad ke-20, pencetakan Al-Qur’an
sudah ditangani oleh umat Islam sendiri dan menjamur di negara-negara Islam. Pada
tahun 1984 berdirilah percetakan khusus Al-Quran “Majma’ Malik Fahd Li Thibaah
Mushaf Syarif”, percetakan terbesar di dunia, yang memang hanya mencetak
Al-Qur’an saja. Letaknya di kota Madinah. Lembaga ini berada di bawah
Kementerian Agama Kerajaan Arab Saudi. Semenjak edisi Raja Fadh, Al-Qur’an
mulai dicetak dengan berbagai ukuran, bentuk, jenis kaligrafi, hiasan (ornamen)
dan penambahan keterangan-keterangan lainnya (tafsir), sebagaimana yang kita
temukan pada saat ini.
